Monday, October 27, 2008

Pengertian dan Teori Komunikasi Kelompok

PENGERTIAN KOMUNIKASI KELOMPOK

 

Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communicatio, A Revision of Approaching Speech/Communication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri, atau pemecahan masalah sehingga semua anggota dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dengan akurat.

            Terdapat 4 elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu: interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki, dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya.

 

KARAKTERISTIK KOMUNIKASI KELOMPOK

 

            Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berprilaku satu dengan yang lainnya. Kadang-kadang norma yang disebut oleh para sosiolog dengan nama “hukum” (law) ataupun “aturan” (rule), yaitu prilaku-prilaku apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan untuk suatu kelompok.

            Jika norma diberi batasan sebagai ukuran kelompok yang dapat diterima, maka peran (role) merupakan pola-pola prilaku yang diharapkan dari setiap anggota kelompok. Ada dua fungsi peran dalam suatu kelompok, yaitu fungsi tugas dan fungsi pemeliharaan.

 

KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK

 

            Ronald B. Adler dan George Rodnan dalam bukunya Understanding Human Communication membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu: kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan kelompok pemecahan masalah (problem-solving group).

  • Kelompok Belajar (learning group)

Salah satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran komunkasi dua arah. Artinya, setiap anggota kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerima pengetahuan.

 

  • Kelompok Pertumbuhan (growth group)

Karakteristik yang terlihat dalam tipe kelompok ini adalah tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membantu para anggotanya. Mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi.

 

  • Kelompok Pemecahan Masalah (problem solving group)

Problem solving group dalam operasionalisasinya melibatkan dua aktivitas penting.

Pertama, pengumpulan informasi (gathering information): bagaimana suatu kelompok sebelumnya membuat keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut. Kedua, pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasarkan pada hasil pengumpulan informasi.

 

TEORI DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK

 

Ada dua aliran besar didalam melihat teori komunikasi kelompok (Liitlejohn, 1999:284-294):
1. The input – process – output model

Input = sesuatu yang mempengaruhi kelompok,

Proses = sesuatu yang terjadi dalam kelompok,

Output = sesuatu yang dihasilkan kelompok.

2. The structurational perspective

Ada tiga teori komunikasi kelompok yang diperkenalkan dalam aliran input-process output model :

a.A general organizing model

Menekankan pada bagaimana kelompok memiliki energi yang digunakan untuk aktivitas pengambilan keputusan.

b. The functional tradition

Menekankan pada kualitas komunikasi kelompok, membahas kesalahankesalahan yang dibuat oleh kelompok pada waktu pengambilan keputusan..

c. The interactioanl tradition

Menekankan pada aspek komunikasi yang terjadi di dalam kelompok. Bahwa output kelompok sangat ditentukan oleh interaksi yang terjadi di dalam kelompok. Kelompok kecil melaksanakan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel discussion, seminar, simposium, dan simposium-forum. Panel Discussion.
Dalam format panel atau meja bundar, anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar atau semi-melingkar. ereka berbagi informasi atau memecahkan permasalahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka berbicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasakan merasakan layak itu.

 

TEORI KONFLIK

 

Berikut gambaran mengenai asumsi-asumsi utama teori konflik adalah

a.       Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan; perubahan ada dimana-mana;

b.      Disensus dan konflik terdapat dimana-mana

c.       Setiap unsur  masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat

d.      Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain (Dahrendorf, 1976:162)

Tokoh Awal : Karl Marx

Dalam kerangka teori Marx cara produksi yang terdapat dalam masyarakat merupakan factor yang menentukan struktur masyarakat tertentu. Pandangan ini dituangkan dalam konsepnya mengenai struktur infa dan struktur supra. Menurut pandangan marx struktur supra selalu ditentukan oleh struktur infra.

Alienansi. Konsep penting lain yang dikembangkan marx ialah konsep alienasi. Marx melihat bahwa sejarah manusia memperlihatkan peningkatan penguasaan manusia terhadap alam serta peningkatan alienansi manusia.

Tokoh Awal : Max Weber

Karya Weber sering dikaitkan dengan teori sosiologi yang berbeda. Uraian webber mengenai tindakan sosial sebagai pokok perhatian sosiologi dijadikan dasar bagi pengembangan teori interaksionalisme simbolik (Turner,1978) Weber pun dianggap sebagai tokoh yang memberi sumbangan terhadap fungsionalisme awal (Turner,1978) namun webber dianggap pula sebagai penganut teori konflik (Collins,1968)

Tokoh Modern : Ralf  Dahrendorf

Dalam tulisan mengenai kelas dan konflik kelas dalam masyarakat industri, Ralf Dahrondorf (1976) menolak beberapa diantara pandangan Marx. Ia mengamati bahwa, berebeda dengan pandangan Marx, perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam tetapi dapat juga dari luar masyarakat; bahwa perubahan dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan konflik sosial; dan bahwa di samping konflik kelas terdapat pula konflik sosial yang berbentuk lain. Ia pun mengamati bahwa konflik tidak selalu menghasilkan revolusi, dan bahwa perubahan sosial dapat mengamati bahwa konflik tidak selalu menghasilkam revolusi revolusi, dan bahwa perubahan sosial dapat terjadi tanpa revolusi. Selanjutnya, Dahrendorf melihat pula bahwa kelas-kelas sosial tidak selalu terlibat didalam konflik. Akhirnya Dahrendoft mencatat bahwa kekuasaan politik selalu mengikuti kekuasaan di bidang Industri.

Menurut Teori konflik versi Dahrendorf masyarakat terdiri atas organisasi-organisasi yang didasarkan pada kekuasaan (dominasi satu pihak atas pihak lain atas dasar paksaan) atau wewenang (dominasi diterima dan diakui oleh pihak yang didominasi). Karena kepentingan kedua pihak dalam asosiasi-asosiasi tersebut berbeda—pihak penguasa berkepentingan untuk memperoleh kekuasaan—maka dalam asosiasi-asosiasi akan terjadi polarisasi dan konflik antara dua kelompo. Keberhasilan kelompok yang dikusai untuk merebut kekuasaan dlam asosiasi akan menghasilkan perubahan sosial. Dengan demikian konflik, menurut Dahrendorf, merupakan sumber terjadinya perubahan sosial (Dahrendorf,1976).

 

Posted by Emi Coeloen in 10:53:59
Comments

One Response

  1. download says:

    Thanks so very much for taking your time to create this very useful and informative site. I have learned a lot from your site. Thanks!! I think you have done an excellent job with your site. I will return in the near future.

Leave a Reply